Luk 24:44-49 Meneruskan pelayanan Yesus
Injil Lukas memberi perhatian pada soal bukti tentang kebangkitan Kristus. Dalam 24:36-43 Dia harus membuktikan bahwa Dia bukan hantu (apakah mereka mengira hantu itu datang untuk membalas dendam terhadap pengkhianatan mereka?) melainkan darah dan daging. Tetapi lebih penting lagi adalah membuktikan bahwa apa yang terjadi sesuai dengan tujuan Allah mengutus-Nya, bahwa Dia tidak hanya orang yang sama tetapi juga memiliki misi yang sama.Dia mulai dengan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Dia sudah memberitahu bahwa Dia harus mati dan bangkit (9:22). Salah satu kata kunci di sini adalah kata “harus” (dei), yang dalam Injil-Injil merujuk pada rencana Allah. Yesus “harus” di rumah Bapa-Nya (2:49). Dia “harus” memberitakan Kerajaan Allah di kota-kota yang lain (4:43). Tetapi kata kunci itu juga terkait dengan kata “tertulis”. Rencana Allah bukan hal yang baru muncul dengan Yesus tetapi sudah tertuang dalam PL. Dalam a.44 Yesus merujuk pada ketiga bagian Alkitab dalam pembagian orang Yahudi, yakni kitab Taurat Musa (Kejadian-Ulangan), kitab nabi-nabi (Yosua-2 Raja-raja dan Yesaya-Maleakhi) dan kitab Mazmur (sebagai kitab pertama dari semua kitab yang lain).
Yang disampaikan dalam seluruh PL adalah pertama-tama penderitaan dan kebangkitan Mesias (a.46). Memang, dalam PL ada konsep yang jelas tentang seorang raja yang akan muncul menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa akan ada keturunan Daud di takhta Israel selama-lamanya (2 Sam 7:12-16). Buku-buku sejarah, nabi-nabi dan Mazmur semua sering menyinggung konsep ini, dan Taurat dalam beberapa aspek melihat ke depan ke raja Daud, seperti nubuatan tentang Yehuda dalam Kej 49:10. Tetapi jika kita melihat bahwa Mesias adalah wakil umat Allah, maka riwayat Yesus menjadi jelas. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus melaksanakan pembuangan dan kebangkitan Israel. Yesaya 53 menyatakan hal itu dengan paling jelas, tetapi pasal itu sesuai dengan apa yang tersirat lebih luas. Bahkan Taurat melihat pembuangan dan pemulihan Israel, terutama dalam Ulangan 28-30, termasuk janji akan hati yang baru (Ul 30:6). Jadi, selain menggenapi beberapa nubuatan Mesianis, Yesus menggenapi seluruh nasib umat Allah sebagai wakil umat manusia. Dia mengikuti manusia ke dalam ranah maut—keterpisahan dari Allah—supaya Dia bisa merintis jalan ke ranah hidup dalam kebangkitan-Nya.
Jika Mesias diperlakukan demikian, apa respons manusia terhadap hal itu? Dalam beberapa nabi, khususnya Yes 40-66, pelayanan hamba adalah dasar pengampunan bagi umat Allah (mis. Yes 40:2). Bangsa-bangsa sebagai tujuan juga jelas dalam seluruh Alkitab. Semua bangsa akan diberkati dalam Abraham; banyak nabi melihat berkat bagi semua bangsa (mis. Am 9:12); Mazmur juga sering menyerukan semua bangsa untuk memuji nama Tuhan (mis. 117). Perhatian Allah bagi semua bangsa bukan sesuatu yang dimulai dengan Yesus, tetapi berakar dalam pemahaman tentang Allah sebagai Pencipta semesta alam. Menurut Lukas 4:16dst pelayanan Yesus memiliki dasar yang sama, yaitu sebagai hamba Tuhan sesuai Yesaya 61. Yerusalem sebagai titik tolak pemberitaan dapat dilihat dalam Yes 2:1-4, dan juga Yesaya 60, 62, di sekitar Yesaya 61 itu.
Begitulah kerangka pemahaman yang disampaikan oleh Yesus kepada mereka, yang menunjukkan bahwa Yesus yang ada di depan mereka adalah hamba Tuhan yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin sejak awal pelayanan-Nya (Luk 4:18). Yesus membuka pikiran mereka akan rencana Allah dalam seluruh PL (a.45), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa mereka menjadi saksi bahwa rencana Allah itu terwujud dalam Yesus. Dia akan pergi, tetapi mereka akan meneruskan pelayanan Yesus dengan berita tentang puncak dari pelayanan-Nya, yakni kematian dan kebangkitan-Nya. Dalam hal itu mereka tidak akan sendirian. Sama seperti Yesus dikuasai oleh Roh Kudus, mereka juga akan menerima kekuasaan dari tempat tinggi.
Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar. Pertobatan dan pengampunan sepertinya sepadan dengan baptisan dan pengajaran dalam Mt 28:19-20, saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Yang kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus sendiri.
Luk 24:44-49 Meneruskan pelayanan Yesus
Injil Lukas memberi perhatian pada soal bukti tentang kebangkitan
Kristus. Dalam 24:36-43 Dia harus membuktikan bahwa Dia bukan hantu
(apakah mereka mengira hantu itu datang untuk membalas dendam terhadap
pengkhianatan mereka?) melainkan darah dan daging. Tetapi lebih penting
lagi adalah membuktikan bahwa apa yang terjadi sesuai dengan tujuan
Allah mengutus-Nya, bahwa Dia tidak hanya orang yang sama tetapi juga
memiliki misi yang sama.
Dia mulai dengan mengingatkan mereka bahwa sebenarnya Dia sudah
memberitahu bahwa Dia harus mati dan bangkit (9:22). Salah satu kata
kunci di sini adalah kata “harus” (dei), yang dalam Injil-Injil merujuk
pada rencana Allah. Yesus “harus” di rumah Bapa-Nya (2:49). Dia “harus”
memberitakan Kerajaan Allah di kota-kota yang lain (4:43). Tetapi kata
kunci itu juga terkait dengan kata “tertulis”. Rencana Allah bukan hal
yang baru muncul dengan Yesus tetapi sudah tertuang dalam PL. Dalam a.44
Yesus merujuk pada ketiga bagian Alkitab dalam pembagian orang Yahudi,
yakni kitab Taurat Musa (Kejadian-Ulangan), kitab nabi-nabi (Yosua-2
Raja-raja dan Yesaya-Maleakhi) dan kitab Mazmur (sebagai kitab pertama
dari semua kitab yang lain).
Yang disampaikan dalam seluruh PL adalah pertama-tama penderitaan dan
kebangkitan Mesias (a.46). Memang, dalam PL ada konsep yang jelas
tentang seorang raja yang akan muncul menggenapi janji Allah kepada Daud
bahwa akan ada keturunan Daud di takhta Israel selama-lamanya (2 Sam
7:12-16). Buku-buku sejarah, nabi-nabi dan Mazmur semua sering
menyinggung konsep ini, dan Taurat dalam beberapa aspek melihat ke depan
ke raja Daud, seperti nubuatan tentang Yehuda dalam Kej 49:10. Tetapi
jika kita melihat bahwa Mesias adalah wakil umat Allah, maka riwayat
Yesus menjadi jelas. Dalam kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus
melaksanakan pembuangan dan kebangkitan Israel. Yesaya 53 menyatakan hal
itu dengan paling jelas, tetapi pasal itu sesuai dengan apa yang
tersirat lebih luas. Bahkan Taurat melihat pembuangan dan pemulihan
Israel, terutama dalam Ulangan 28-30, termasuk janji akan hati yang baru
(Ul 30:6). Jadi, selain menggenapi beberapa nubuatan Mesianis, Yesus
menggenapi seluruh nasib umat Allah sebagai wakil umat manusia. Dia
mengikuti manusia ke dalam ranah maut—keterpisahan dari Allah—supaya Dia
bisa merintis jalan ke ranah hidup dalam kebangkitan-Nya.
Jika Mesias diperlakukan demikian, apa respons manusia terhadap hal
itu? Dalam beberapa nabi, khususnya Yes 40-66, pelayanan hamba adalah
dasar pengampunan bagi umat Allah (mis. Yes 40:2). Bangsa-bangsa sebagai
tujuan juga jelas dalam seluruh Alkitab. Semua bangsa akan diberkati
dalam Abraham; banyak nabi melihat berkat bagi semua bangsa (mis. Am
9:12); Mazmur juga sering menyerukan semua bangsa untuk memuji nama
Tuhan (mis. 117). Perhatian Allah bagi semua bangsa bukan sesuatu yang
dimulai dengan Yesus, tetapi berakar dalam pemahaman tentang Allah
sebagai Pencipta semesta alam. Menurut Lukas 4:16dst pelayanan Yesus
memiliki dasar yang sama, yaitu sebagai hamba Tuhan sesuai Yesaya 61.
Yerusalem sebagai titik tolak pemberitaan dapat dilihat dalam Yes 2:1-4,
dan juga Yesaya 60, 62, di sekitar Yesaya 61 itu.
Begitulah kerangka pemahaman yang disampaikan oleh Yesus kepada
mereka, yang menunjukkan bahwa Yesus yang ada di depan mereka adalah
hamba Tuhan yang memberitakan kabar baik kepada orang miskin sejak awal
pelayanan-Nya (Luk 4:18). Yesus membuka pikiran mereka akan rencana
Allah dalam seluruh PL (a.45), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa
mereka menjadi saksi bahwa rencana Allah itu terwujud dalam Yesus. Dia
akan pergi, tetapi mereka akan meneruskan pelayanan Yesus dengan berita
tentang puncak dari pelayanan-Nya, yakni kematian dan kebangkitan-Nya.
Dalam hal itu mereka tidak akan sendirian. Sama seperti Yesus dikuasai
oleh Roh Kudus, mereka juga akan menerima kekuasaan dari tempat tinggi.
Kita bukan saksi mata sama seperti mereka, tetapi perintah Yesus
tentang perlunya memberitakan pertobatan dan pengampunan tidak dikaitkan
dengan kesaksian mereka melainkan dengan adanya bangsa-bangsa yang
belum mendengar. Jadi, dua hal dapat menghalangi gereja meneruskan
kesaksian para murid itu. Yang pertama, jika pikiran belum dibuka untuk
melihat bahwa pemberitaan Kristus mewujudkan rencana Allah bagi
bangsa-bangsa, kita akan malas merepotkan diri dengan misi ke luar.
Pertobatan dan pengampunan sepertinya sepadan dengan baptisan dan
pengajaran dalam Mt 28:19-20, saluran berkat bagi bangsa-bangsa. Yang
kedua, kalaupun pikiran sudah dibuka, tanpa kekuasaan dari tempat
tinggi, kita tidak dapat bertahan dalam misi itu. Roh Kudus yang akan
menyertai para pemberita Kristus dalam Injil Lukas. Hal itu tidak
bertentangan dengan penyertaan Kristus dalam Mt 28:20, karena Roh itu
Roh Kristus. Dengan penyertaan Roh Kudus, sebagaimana dilihat dalam
Kisah Para Rasul, pemberita Kristus akan meneruskan pelayanan Yesus
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar