teks

Visi GPSK Immanuel Ng. Merakai : Menjadi GEREJA yang MISIONER, yang MEMBERKATI serta DIBERKATI

Senin, 08 April 2013

MENGAPA YESUS RELA MENDERITA DAN MATI DI KAYU SALAIB?



Sejak tahun 2009, setiap Jumat Agung, kita telah belajar mengenai “Mengapa Yesus Rela Menderita dan Mati di Kayu Salib?” Dan hari ini kembali kita belajar tentang topik ini

1. Untuk pengampunan dosa-dosa kita, Ef. 1:7; Mat. 26:28

Ketika kita mengampuni utang atau pelanggaran atau kesalahan seseorang, kita tidak lagi menuntut pembayaran, semuanya sudah beres atau selesai ketika kita memberikan pengampunan bagi orang tersebut. Jika masih ada pembayaran yang dituntut maka itu bukanlah pengampunan.
MENGAPA YESUS RELA MENDERITA DAN MATI DI KAYU SALAIB?

Itulah yang dilakukan Allah bagi kita ketika kita percaya kepada Yesus Kristus; yaitu dosa kita diampunai artinya kita tidak lagi dikenakan tuntutuan apapun atas perbuatan dosa kita.

Tetapi kemudian muncul masalah. Dimana keadilan Allah? Bukankah Allah itu adil? Sebagai Allah yang adil, tentunya Ia harus menghukum kita karena perbuatan dosa kita dan sebaliknya Allah memberkati kita ketika kita tidak berbuat dosa.

Allah tetap Allah yang adil. Tuntutan terhadap keadailan Allah atas perbuatan dosa kita terlunaskan atau terbayar melalaui kematian Kristus di Kayu salib. Jadi Kristus telah menanggung semua tuntutan dari perbuatan dosa kita dengan darah-Nya sendiri, Kis. 10:43; Yes. 43:25; Mz. 103:12.

Jadi ketika Paulus berkata: “Di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan (Ef. 1:7),” Paulus sedang mengatakan bahwa semua akibat dosa dan perbuatan dosa kita telah ditanggungkan kepada Kristus di dalam kematiaan-Nya di kayu salib dan kita bebas dari tuntutan dosa.

Untuk itu marilah kita menaikkan syukur senanatiasa kepada Tuhan Yesus atas pengorbanan-Nya untuk pengampunan dosa-dosa kita.

Bagaimana kita mengalami pengampunan Yesus di dalam kehidupan kita? Mengakui bahwa kita telah berdosa, minta dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan mangampuni kita berdasarkan kematianNya di kayu salib bagi kita, maka sesuai janjiNya kita akan diampuni, 1 Yoh. 1:8-9

2. Untuk menunjukkan kasih atau kebaikan-Nya kepada kita, 1 Yoh. 3:16; Yoh. 10:11; Ef. 5:21,25; Gal. 2:20

Yesus mengasihi kita bukan ketika kita telah sempurna. Yesus menyatakan kasihNya justru ketika kita masih di dalam kubangan dosa.

Yesus menyatakan kasihNy kepada kita bukan saja dengan menyatakan mukjizat, menyembuhkan penyakit, memberkati usaha, bahkan dengan cara Ia memberikan nyawaNya dengan relah bagi kita sebagai tebusan supaya kita bisa deselamatkan dari kematian kekal.

Mari kita belajar dari Yesus untuk mengasihi sesama kita, jangan tunggu sampai mereka sempurna karena itu tidak akan terjadi selama kita masih di dalam dunia ini, tetapi nyatakan kasih kita walau sesama kita masih banyak kekurangan seperti kita sendiri juga yang masih punya kekurangan.

3. Untuk membentuk suatu komunitas yang mau memikul salib dengan relah demi pelebaran kerajaan Allah di muka bumi ini, Luk. 9:23; Mat. 10:38

Penderitaan dan kematian Yesus bukan saja supaya kita dibebaskan dari belenggu dosa, juga bukan saja untuk menunjukkan kasihNya, tetapi juga melalui kerelaanNya untuk menderita dan mati di kayu salib Ia ingin membentuk suatu umat yang rela untuk memikul salib setiap hari.

Yesus rela mati untuk memperluas kerajaan Allah di muka bumi ini. Perluasan kerajaan Allah itu ialah melalau pertambahan jumlah bilangan orang percaya. Kerajaan Allah semakin luas artinya semakin banyak orang yang mengakui Yesus Kristus adalah Juruselamat dan Tuhan

Sekarang supaya kerajaan Allah semakin luas, maka kita harus seperti Yesus yang dengan rela memikul salib (rela menderita).

Jika kita melihat gereja mula-mula, mereka relah pikul salib asalkan Injil Kristus deberitakan. Contohnya seperti Paulus. Ia rela bekerja sendiri kumpulkan uang supaya ia bisa pergi beritakan injil. Ia rela pergi memberitakan injil dengan naik kapal dengan resiko bahwa bahaya yang mengancam sewaktu-waktu. Demi memperluas kerajaan Allah, Paulus pernah dipenjara, dianiaya, tidak makan dst, tetapi ia rela menghadapi semua itu. Itulah yang diharapakan oleh Yesus, itu sebanya Ia rela menderita dan mati untuk menjadi contoh bagi setaiap orang percaya pada masa kini.

4. Untuk menunjukkan ketaatanNya dan sekaligus menjadi contoh bagi kita, Ibr. 5:8; Flp. 2:8

Penderitaan dan kematian Kristus di kayu salib merupakan wujud ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa-Nya yang di sorga. Dan sebagai akibatnya Bapa sorgawi sangat memuliakan Kristus.

Ketika kita mau taat kepada kehendak Bapa, walaupun mungkin kita harus menderita, maka Allah akan memberkati kita dengan luar biasa.

KESIMPULAN:

Jadi, MENGAPA YESUS RELA MENDERITA DAN MATI DI KAYU SALIB? 

Jawabannya adalah:
Untuk pengampunan dosa-dosa kita, Untuk menunjukkan kasih atau kebaikan-Nya kepada kita, Untuk membentuk suatu komunitas yang mau memikul salib dengan relah demi pelebaran kerajaan Allah di muka bumi ini, dan Untuk menunjukkan ketaatanNya dan sekaligus menjadi contoh bagi kita

Minggu, 07 April 2013


KARAKTER KITA MENENTUKAN NASIB KITA

Written By Admin on MinggU

Baca Mat 15:30.

Dalam perumpamaan talenta juga digambarkan dalam Injil Matius pasal 25:14–30 ada seorang hamba yang harus dicampakkan kedalam tempat tangisan dan kertak  gigi.

Ia disebut jahat dan malas (Mat 25:26). “Maka jawab tuannya itu : Hai kamu, hamba yang jahat dan malas jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai ditempat dimana aku tidak menabur dan memungut dari tempat dimana aku tidak menanam? “

Ia disebut tidak berguna (Mat 25:30). Ia tak berguna dihadapan majikannya karena ia jahat. Kepintarannya dapat membuat ia dapat berkata kepada majikannya : “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.” (Mat 25 : 24 ) Ia disebut jahat dan malas.

Mari kita lihat lebih lanjut hal karakter ini.

I. IA DISEBUT JAHAT KARENA TIDAK BERTANGGUNG JAWAB.

Ia semestinya melipatgandakan talenta yang ia terima dari tuannya bukan menimpanya didalam tanah. Tuannya berkata kepadanya: “Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kau berikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunga nya" (Mat 25:27)

Tanggung jawab membuat kita memakai setiap kemampuan dengan baik. Kita sadar bahwa setiap kesempatan yang ada tidak mungkin terulang kembali.

Tanggung jawab juga membantu kita mengerjakan pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh, kita mencintai apa yang kita kerjakan.

Tanggung jawab membuat kita tidak takut berbuat kesalahan. Hamba dalam perumpamaan talenta itu berkata kepada tuannya: “Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan dibawah tanah" (Mat 25:25). Kalimat yang menggambarkan ia takut melakukan kesalahan. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar kesalahan yang kita buat.

II. DALAM PERJALANAN MENUJU SUKSES BANYAK KESALAHAN KITA LAKUKAN

Dan banyak kesalahan yang kita buat, kita banyak belajar juga dan menjadikannya batu lompatan untuk meraih sukses. Bukankan pengalaman adalah guru yang baik. Jika kita takut berbuat kesalahan, mimpi kita akan terhalang.

Tom Watson,Sr pendiri perusahaan terkenal I.B.M mempunyai seorang eksekutif muda yang menghabiskan US $ 12 juta hanya untuk sebuah eksperimen yang gagal. Suatu kesalahan yang fatal. Namun ia tak dimarahi Tom Watson. Malah kepadanya diberikan kalimat ini: “Saya telah menghabiskan US $ 12 juta dalam untuk mendidik anda, hayo coba lagi”

III. IA JAHAT KARENA IA MALAS
Alkitab mengatakan bahwa orang yang mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan malah lebih jahat dari seorang perusak : “Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari siperusak (Ams 18:9)

Perlu diingat bahwa :
1.Kemalasan adalah sebuah kebiasaan dan karakter yang harus dibuang (1 Tim  5:13)
2.Kemalasan mendatangkan hidup berkekurangan dan kehancuran dalam banyak segi kehidupan (Pkh 10:18)
3.Kemalasan membuat hidup tidak produktif (Ams 10:26)
4.Kemalasan mematikan kreatifitas seseorang (Ams 13:4)
5.Kemalasan membuat seseorang bertindak gegabah (AMS 26:16) dan lebih jahat lagi kemalasan ibarat pedang dapat membunuh inspirasi kita sebagai modal keberhasilan (Ams 21:25)

IV.  PELIHARA KARAKTER YANG BAIK

1.Iri hati menimbulkan dosa
“Firman Tuhan kepada Kain: Mengapa hatimu panas dan mukamu muram. Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik dosa sudah mengintip didepan pintu, ia sangat menggoda engkau tetapi engkau harus berkuasa atasnya (Kej 4:6–7)

2.Perbaiki tingkah laku dan dengar suara Tuhan
Oleh sebab itu perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu dan dengarkanlah suara Tuhan Allah mu, sehingga Tuhan  menyesal akan malapetaka yang  diancamkannya atas kamu (Jer 6:13)

3.Ada pepatah: “Kalau kita kehilangan harta kita tidak kehilangan apa-apa, kalau kta kehilangan kekuasaan kita kehilangan sedikit saja. Akan tetapi kalau kita kehilangan karakter kita kehilangan segalanya."


Khotbah Pdt. JR Simanjuntak, MA dalam Kebaktian Pagi & Malam GSJA KEMULIAAN

Sabtu, 06 April 2013

PERJANJIAN YANG BARU OLEH DARAHNYA


NAST KHOTBAH :( Baca Lukas 22 : 20 )
Kita senang dengan sesuatu yang baru. Baju, rumah, mobil dan hal-hal yang lain. Mengapa? Karena segala yang baru adalah yang terbaik. Tuhan Jesus dalam perjamuan yang terakhir dengan murid-muridnya mengungkapkan bahwa cawan yang mereka minum adalah “Perjanjian baru” oleh darahnya. Melalui darah Yesus Allah menjadikannya sebagai materai dari perjanjian yang baru antara Allah dengan umat-Nya.

I.    Peringatan yang baru perihal Jesus ( 1 Kor 11 : 23 – 24     )
23)    Sebab apa yang kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan yaitu bahwa Tuhan Jesus pada malam waktu Ia diserahkan mengambil hati”
24)    dan setelah itu lalu Ia mengucapkan syukur atasnya, Ia memecah-mecahkannya dan berkata : Inilah tubuhku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlan ini jadi peringatan akan aku,”

Bagaimana caranya mereka mengingat Jesus ?
-    Tanpa ragu, mereka mengingatnya saat ia menyembuhkan, berkhotbah, mengajar di bukit dan berjalan di pantai serta berada di perahu.
-    Tetapi cara yang baru untuk mengingat Dia yaitu Ia mati bagiku. Ia mengasihi aku ( Jah 3 : 16 )

II.    Tanggung Jawab yang baru
•    Setiap kita makan perjamuan suci biarlah kita ingat tanggung jawab yang baru yaitu menjadi saksinya di Jarusalem, Judea dan Samaria  sampai ke ujung bumi.
•    Ia pergi kesorga supaya Roh Kudus datang membantu kita melaksanakan tanggung jawab baru yaitu menjadi saksi-Nya

III.    Persekutuan yang baru
•    Tuhan menyebut perjanjian yang baru, menunjuk kepada persekutuan dengan Dia
-    Dahulu, orang bersekutu dengan Tuhan Jesus melalui Hukum Taurat sekarang melalui kasih.
-    Dahulu, orang bersekutu dengan Tuhan Jesus melalui upacara sekarang melalui iman

Sumber:
Khotbah Pdt. JR Simanjuntak, MA dalam Kebaktian Umum GSJA KEMULIAAN,
 

MUJIZAT YANG TERJADI SAAT PENYALIBAN JESUS


“ Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga” ( Mat 27 : 45 )

Jesus Krisus penuh mujizat, kelahiran-Nya diwarnai mujizat karena Ia lahir dari seorang perawan yang belum mengenal laki – laki ( Luk 1 : 34 ). Hidup dan pelayanan-Nya diwarnai tanda heran.

Mari kita simak 4 hal mujizat yang mewarnai kematian-Nya.
I.    PADA SAAT DIA DISALIB TERJADI KEGELAPAN YANG TIDAK LAZIM

“Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga” (Mat  27 : 45 )

Tidak lazim karena itu pukul dua belas tengah hari dan hanya selama tiga jam. Kegelapan itu bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan tetapi terjadi karena sudah direncanakan sebelumnya.

Dalam peristiwa bangsa Israil keluar dari Mesir tulah kesembilan adalah kegelapan 3 hari ( Kel 10 : 23 ) sesuatu yang terjadi ada dalam rencana Allah.

II.    TABIR BAIT SUCI YANG TERBELAH DUA

“Dan lihatlah tabir bait suci terbelah dua dari atas sampai kebawah dan terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah ( Mat 27 : 5 ).

Dengan matinya Jesus Kristus di kayu salib, Allah bukan saja bagi bangsa Yahudi tetapi bagi siapa saja yang berseru memanggil nama-Nya (Rom 10 : 12 – 13 )

III.    GEMPA BUMI DAN BUKIT – BUKIT BATU TERBELAH

“....... dan terjadilah gempa bumi dan bukit batu terbelah ( Mat 27 : 51 )”

Peristiwa yang menggambarkan bukan saja makna pengorbanan-Nya tetapi lebih dari itu. Bertalian dengan kedatangan-Nya kembali untuk kedua kali yang didahului oleh peristiwa alam yang menggemparkan.

IV.    ORANG – ORANG SALEH BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI

“Dan kuburan – kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit (Mat 27 : 52 )”. Peristiwa ini adalah lambang dari kebangkita-Nya dari antara orang mati dan akan lebih dahsyat lagi pada saat kedatangan-Nya kembali ( I Tes 4 : 13 – 17 )

Mujizat yang mewarnai penyaliban Jesus tidak membuat kita mencari mujizat-Nya, tetapi mencari Dia sumber kehidupan yang berkelimpahan ( Joh 10 : 10 ).  

PELAYANAN YANG SEJAT MEMBAWA BERKAT


Yohanes 13:12-15

Tidak ada seorangpun dari antara murid Yesus yang mau membasuh kaki, masalahnya adalah bahwa orang yang membasuh kaki orang lain adalah orang yang paling rendah. Sampai akhirnya Yesus harus memberi teladan tentang pelayanan sejati dan kerendahan hati (Yohanes 13:12-15). Dengan demikian Ia memberi definisi baru tentang kebesaran sejati (Lukas 22:24-26). Otoritas yang dibicarakan Yesus disini adalah otoritas fungsi, bukan otoritas status: otoritas yang tidak terdapat dalam kedudukan atau gelar melainkan dalam selembar handuk! Pelayanan mewujudkan sifat kerendahan hati di dalam kehidupan kita, sifat yang sangat penting dimiliki oleh seorang Kristen (Yakobus 4:6). Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita melayani dan apa itu pelayanan yang sejati. Kita kadang terjebak melakukan pelayanan yang semu padahal Yesus ingin kita melakukan pelayanan yang sejati. Ada beberapa perbedaan antara pelayanan semu dan sejati :

1. Pelayanan semu terpengaruh oleh “suatu yang hebat“. Ia suka melayani bila pelayanan itu besar dan hebat. Pelayanan sejati tidak membedakan mana pelayanan yang kecil dan besar. Ia menyambut setiap kesempatan untuk melayani. Yesus melakukan pelayanan event-event besar yang dipenuhi banyak orang (bahkan ada yang 4000 orang dan ada yang 5000 orang, itu pun baru laki-laki), (Mat 14:13-21; 15:29-39). Namun juga Yesus melakukan pelayanan kecil tapi sangat mengubahkan orang. Ia rela jalan jauh-jauh bertemu dengan perempuan Samaria, Bartimeus yang lumpuh, Zakheus si pemungut cukai, seorang gila dari Gerasa, dan lain-lain. Layanilah Tuhan tanpa melihat apakah itu event besar atau event kecil.

2. Pelayanan semu biasanya bersifat sementara. Kalau ada proyek/tugas khusus yang harus dikerjakan, ia melayani. Seusai melayani maka ia beristirahat dengan senang. Sedangkan pelayanan sejati merupakan suatu gaya hidup. Pelayanan ini dilakukan karena pola hidup yang sudah mendarah daging. Timbulnya secara spontan untuk memenuhi keperluan sesama manusia. Jadi pelayanan sejati bukanlah sesuatu yang kita buat atau tampilkan, melainkan itulah gaya hidup kita.

3. Pelayanan semu menuntut pahala lahiriah. Ia perlu mengetahui apakah orang-orang melihat dan menghargai usahanya. Ia mencari tepuk tangan manusia. Ia menunggu untuk melihat apakah orang yang dilayani itu akan membalas dengan melayani dia. Jika semua pelayanan kita dilakukan di depan orang lain maka kita ini menjadi orang yang dangkal. Pelayanan sejati merasa puas dan tetap melakukan meskipun tidak diperhatikan oleh orang. Ia merasa puas bila Allah disenangkan. Kesukaannya hanya untuk melayani (Lukas 17:10). Ia melakukan untuk Tuhan dan tahu bahwa ada upah yang telah disediakan oleh Tuhan karena itu ia tidak kehilangan focus dalam pelayanannya (Kol 3:23-24).

4. Pelayanan semu menentukan dan memilih siapa yang akan dilayani. Kadang-kadang orang kaya dan berkuasa dilayani sebab itu pasti mendatangkan keuntungan. Kadang-kadang orang yang miskin dilayani untuk menjaga citra kerendahan hati. Pelayanan sejati melayani siapa saja dan tidak pandang bulu (Yakobus 2:1-9).

5. Pelayanan semu dipengaruhi oleh suasana hati. Ia hanya bisa melayani bila ada “perasaan mood“ untuk melayani (“digerakkan oleh Roh“, katanya, padahal “angin-anginan“/tidak stabil). Kesehatan yang terganggu, adanya masalah pribadi dan tidur yang kurang akan menghambat keinginannya untuk melayani. Pelayanan yang sejati melayani dengan rendah hati dan peka terhadap kebutuhan. Ia tahu bahwa “perasaan untuk melayani“ sering bisa menghambat yang sejati. Ia tidak dikendalikan perasaan tapi oleh panggilan hidup dan sudah menjadi gaya hidupnya. Pelayanan sejati rela memaksa diri untuk melayani dengan sungguh-sungguh. Ia menaklukkan dirinya supaya taat kepada Allah dan rela menyangkal diri serta kedagingannya (I Korintus 9:27, II Timotius 4:2).

6. Pelayanan semu menimbulkan keretakan dalam gereja (meruntuhkan gereja) karena berpusat pada diri sendiri. Oleh sebab pelayanan ini, orang lain berhutang kepada kita dan pelayanan ini menjadi salah satu bentuk manipulasi yang paling licik dan merusak. Akibatnya ialah perpecahan dalam gereja. Pelayanan sejati berpusat pada kasih Tuhan yang mempersatukan dan membangun tubuh Kristus. Pelayanan dengan tenang dan sederhana memperhatikan kebutuhan orang lain. Tidak seorangpun diwajibkan untuk membalas pelayanannya itu. Pelayanan ini menarik, menyembuhkan dan membangun. Hasilnya adalah kesatuan gereja dan masyarakat.

Akhirnya, sesuatu yang semu tidak dikenan Allah dan itu berarti jika kita melakukannya kita berdosa kepada Tuhan tapi melakukan pelayanan yang sejati mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Lakukanlah pelayanan yang sejati dalam hidup kita!

MARILAH KITA MENGUMPULKAN HARTA DI SORGA DEGAN HATI YANG TULUS

Written By Admin on Minggu, 04 September 2011 | 9:32 AM

MATIUS 6:19-21
19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 


Orang dunia berkata: “Bekerjalah dengan keras untuk mendapatkan harta untuk dinikmati dan untuk diwariskan kepada anak-anak dan cucu.” Tetapi Yesus berkata: “Jangan kamu mengumpulkan harta di bumi…kumpulkanlah bagimu harta di sorga.” Tidak dikatakan “Kumpulkanlah harta di sorga untuk diwariskan bagi anak dan cucu-cucu mu,” tetapi dikatakan supaya kita mengumpulkan harta di sorga bagi diri kita sendiri. Bukan bagi keturunan kita tapi bagi kita sendiri.

Tetapi sayangnya seringkali orang percaya menganut pandangan orang dunia di dalam mengumpulkan harta. Seringkali kita seperti orang dunia yang berpikir bahwa harta yang sesungguhnya yaitu segala yang ada di dunia ini: uang, mobil, rumah, jabatan, pujian, teman yang banyak, nama yang terkenal dll. Tetapi ini bukanlah harta yang sesungguhnya.

Pada saat ini kita akan merenungkan bersama beberapa poin mengenai “kumpulkanlah hartamu di sorga”.

I.    Apa artinya “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi?” (ay. 19 a)
  • Kita tidak boleh menganggap harta di bumi sebagai hal yang terpenting,  atau paling berharga, atau yang paling bermanfaat bagi diri kita sendiri. Kita tidak boleh menganggap harta di bumi sebagai kemuliaan, tetapi kita harus memandang dan mengakui bahwa harta di bumi ini tidak mempunyai kemuliaan jika dibandingkan dengan kemuliaan harta sorgawi kita.
  • Kita tidak boleh menjadikan kelimpahan dalam harta duniawi sebagai tujuan hidup kita tetapi kelimpahan harta duniawi kita pergunakan sebagai alat untuk memperluas kerajaan Allah.
  • Kita tidak boleh mengandalkan harta duniawi untuk masa depan kita, untuk dijadikan jaminan dan persediaan bagi masa depan kita. Jangan kita berkata kepada harta dunia, “Engkaulah perlindunganku.
  • Tidak  berpuas diri dengan harta benda duniawi. Artinya jangan jadikan harta duniawi menjadi sumber kepuasan dalam hidup tetapi Tuhanlah yang seharusnya menjadi sumber kepuasan hidup.

II.    Alasan mengapa kita tidak boleh memandang harta di bumi sebagai harta kita.

(1)    Karena ngengat dan karat dapat merusakkannya dan pencuri dapat membongkar serta mencurinya. Artinya harta duniawi tidak bersifat kekal, tidak bisa kita bawa ke sorga. Sikap kita atau bagaimana kita memperlakukan harta duniawi itulah yang menentukan harta kita yang sejati atau harta yang sesungguhnya.

Pengkhobah berkata: “Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang yang menghabiskannya…” (Pkh. 5:10). Harta duniawi bisa habis tetapi harta sorgawi yang kita kumpul tidak bisa habis dan itu selama-lamanya untuk kita.

(2)    Karena harta duniawi tidak pernah membawa kepada kepuasan bahkan membawa kita kepada kekhawatiran atau kecemasan, Pkh. 5:9

III.    Apa artinya “harta di sorga?”
  • Tuhan Yesus berkata supaya kita mengumpulkan harta kita di sorga. Itu berarti bahwa di sorga ada harta sama seperti di bumi ini juga ada harta. Hanya saja harta di bumi ini dengan harta di sorga tentunya sangat berbeda.
  • Harta di sorga merupakan satu-satunya harta yang sejati yang tidak akan hilang oleh apapun karena Allah sendiri yang menjaganya dan yang kita nikmati selama-lamanya. Dampak harta sorgawi yang kita miliki yaitu adanya  sukacita yang luar biasa serta kepuasan yang sejati.

IV.    Bukti bahwa kita sedang mengumpulkan harta di sorga, ay. 21
  • Keadaan hati kita atau dimana hati kita berada itu menjelaskan bahwa kita sedang mengumpulkan harta disitu. Dapat juga dikatakan bahwa hati kita mengikuti harta kita.
  • Dimana harta kita berada, entah di bumi atau di sorga , disitulah nilai dan harga diri berada, di situ jugalah cinta dan perasaan berada, ke situ jugalah tertuju segala keinginan dan hasrat, ke situ jugalah mengarah segala tujuan dan maksud dan segala sesuatu dilakukan berdasarkan pandangan akan harta itu.
  • Di mana harta kita berada (entah di bumi atau di sorga), di situ juga perhatian kita dan kekhawatiran kita berada karena takut kehilangan harta itu.
  • Di mana harta kita berada (entah di bumi atau di sorga), di situ jugalah harapan dan kepercayaan kita berada, Ams. 18:10-11.
  • Di mana harta kita berada (entah di bumi atau di sorga), di situ jugalah segala sukacita kita dan kesenagan kita akan berada, Mz. 119:111
  • Di mana harta kita berada (entah di bumi atau di sorga), di situ jugalah pikiran-pikiran kita berada, Kol. 3:2.

V.    Bagaimana kita mengumpulkan harta di sorga?
  1. Dengan cara membiayai pekabaran injil, Mat. 10:10; 1 Tim. 5:17,18; Luk. 8:1-3
  2. Dengan cara menolong anak-anak Tuhan yang berada dalam kesusahan, 2 Kor. 9:1,5
  3. Dengan cara berbuat baik kepada semua orang  terutama kepada kawan-kawan kita seiman, Gal. 6:9-10

Kesimpulan:


Kita tidak boleh menganggap harta di bumi sebagai hal yang terpenting, kelimpahan dalam harta duniawi sebagai tujuan hidup kita, mengandalkan harta duniawi untuk masa depan kita, dan tidak  berpuas diri dengan harta benda duniawi.

Harta duniawi tidak bersifat kekal, tidak bisa kita bawa ke sorga dan harta duniawi tidak pernah membawa kepada kepuasan.

Harta di sorga merupakan satu-satunya harta yang sejati yang tidak akan hilang oleh apapun karena Allah sendiri yang menjaganya dan yang kita nikmati selama-lamanya. Keadaan hati kita atau dimana hati kita berada itu menjelaskan bahwa kita sedang mengumpulkan harta disitu.

Kumpulkanlah harta di sorga dengan cara membiayai pekabaran injil, menolong anak-anak Tuhan yang berada dalam kesusahan, dan dengan cara berbuat baik kepada semua orang  terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Hari Raya Paskah di GPSK "IMMANUEL" Nanga Merakai



Hari Jumaat Agung adalah hari Jumaat sebelum hari minggu paskah,hari peringatan penyaliban YESUS KRISTUS dan wafatNya di Golgota. Hati itu sendiri tidak dijelaskan di Alkitab. ada yang menduga jatuh pada hari baru, tetapi lebih banyak menenpatkan pada hari Jumaat. Berdasarkan rincian kitab suci mengenai pengadilan sahhedrin atas yesus dan analisis ilmiah. Peristiwa penyaliban sangat mungkin terjadi pada hari jumaat. Namun, yanggal kejadian nya yang tidak diketahui dengan pasti . Di hari Jumaat Agung ini GPSK IMMANUEL NANGA MERAKAI Mengadakan BABTISAN untuk pemuda yang menyerahkan sepenuhnya kepada TUHAN YESUS. Pukul 06.00 WIB. Puji Tuhan….!!! 
         Dizaman yang serba modern, serba elit ini, yang mau serba instan ini. masih ada pemuda yang ingin menyerahkan hidupnya. Dimana masa-masa usia pemuda ini sedang mencari jati diri meraka. Walpun kebanyakkan pemuda diluar yang belum mengenal TUHAN YESUS. Tetapi setidaknya mereka yang telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan dapat menjadi garam untuk mereka yang belum mengenal Tuhan dan mengenalkan Tuhan Yesus kepada setiap pribadi. Bersamaan dengan itu GPSK IMMANUEL NANGA MERAKAI juga mengadakan perjamuan kudus untuk jemaat yang telah dibabtis dalam nama BAPA, ANAK DAN ROH KUDUS ( tri tunggal )