teks

Visi GPSK Immanuel Ng. Merakai : Menjadi GEREJA yang MISIONER, yang MEMBERKATI serta DIBERKATI

Minggu, 07 April 2013


KARAKTER KITA MENENTUKAN NASIB KITA

Written By Admin on MinggU

Baca Mat 15:30.

Dalam perumpamaan talenta juga digambarkan dalam Injil Matius pasal 25:14–30 ada seorang hamba yang harus dicampakkan kedalam tempat tangisan dan kertak  gigi.

Ia disebut jahat dan malas (Mat 25:26). “Maka jawab tuannya itu : Hai kamu, hamba yang jahat dan malas jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai ditempat dimana aku tidak menabur dan memungut dari tempat dimana aku tidak menanam? “

Ia disebut tidak berguna (Mat 25:30). Ia tak berguna dihadapan majikannya karena ia jahat. Kepintarannya dapat membuat ia dapat berkata kepada majikannya : “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.” (Mat 25 : 24 ) Ia disebut jahat dan malas.

Mari kita lihat lebih lanjut hal karakter ini.

I. IA DISEBUT JAHAT KARENA TIDAK BERTANGGUNG JAWAB.

Ia semestinya melipatgandakan talenta yang ia terima dari tuannya bukan menimpanya didalam tanah. Tuannya berkata kepadanya: “Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kau berikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunga nya" (Mat 25:27)

Tanggung jawab membuat kita memakai setiap kemampuan dengan baik. Kita sadar bahwa setiap kesempatan yang ada tidak mungkin terulang kembali.

Tanggung jawab juga membantu kita mengerjakan pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh, kita mencintai apa yang kita kerjakan.

Tanggung jawab membuat kita tidak takut berbuat kesalahan. Hamba dalam perumpamaan talenta itu berkata kepada tuannya: “Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan dibawah tanah" (Mat 25:25). Kalimat yang menggambarkan ia takut melakukan kesalahan. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar kesalahan yang kita buat.

II. DALAM PERJALANAN MENUJU SUKSES BANYAK KESALAHAN KITA LAKUKAN

Dan banyak kesalahan yang kita buat, kita banyak belajar juga dan menjadikannya batu lompatan untuk meraih sukses. Bukankan pengalaman adalah guru yang baik. Jika kita takut berbuat kesalahan, mimpi kita akan terhalang.

Tom Watson,Sr pendiri perusahaan terkenal I.B.M mempunyai seorang eksekutif muda yang menghabiskan US $ 12 juta hanya untuk sebuah eksperimen yang gagal. Suatu kesalahan yang fatal. Namun ia tak dimarahi Tom Watson. Malah kepadanya diberikan kalimat ini: “Saya telah menghabiskan US $ 12 juta dalam untuk mendidik anda, hayo coba lagi”

III. IA JAHAT KARENA IA MALAS
Alkitab mengatakan bahwa orang yang mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan malah lebih jahat dari seorang perusak : “Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari siperusak (Ams 18:9)

Perlu diingat bahwa :
1.Kemalasan adalah sebuah kebiasaan dan karakter yang harus dibuang (1 Tim  5:13)
2.Kemalasan mendatangkan hidup berkekurangan dan kehancuran dalam banyak segi kehidupan (Pkh 10:18)
3.Kemalasan membuat hidup tidak produktif (Ams 10:26)
4.Kemalasan mematikan kreatifitas seseorang (Ams 13:4)
5.Kemalasan membuat seseorang bertindak gegabah (AMS 26:16) dan lebih jahat lagi kemalasan ibarat pedang dapat membunuh inspirasi kita sebagai modal keberhasilan (Ams 21:25)

IV.  PELIHARA KARAKTER YANG BAIK

1.Iri hati menimbulkan dosa
“Firman Tuhan kepada Kain: Mengapa hatimu panas dan mukamu muram. Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik dosa sudah mengintip didepan pintu, ia sangat menggoda engkau tetapi engkau harus berkuasa atasnya (Kej 4:6–7)

2.Perbaiki tingkah laku dan dengar suara Tuhan
Oleh sebab itu perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu dan dengarkanlah suara Tuhan Allah mu, sehingga Tuhan  menyesal akan malapetaka yang  diancamkannya atas kamu (Jer 6:13)

3.Ada pepatah: “Kalau kita kehilangan harta kita tidak kehilangan apa-apa, kalau kta kehilangan kekuasaan kita kehilangan sedikit saja. Akan tetapi kalau kita kehilangan karakter kita kehilangan segalanya."


Khotbah Pdt. JR Simanjuntak, MA dalam Kebaktian Pagi & Malam GSJA KEMULIAAN

Sabtu, 06 April 2013

PERJANJIAN YANG BARU OLEH DARAHNYA


NAST KHOTBAH :( Baca Lukas 22 : 20 )
Kita senang dengan sesuatu yang baru. Baju, rumah, mobil dan hal-hal yang lain. Mengapa? Karena segala yang baru adalah yang terbaik. Tuhan Jesus dalam perjamuan yang terakhir dengan murid-muridnya mengungkapkan bahwa cawan yang mereka minum adalah “Perjanjian baru” oleh darahnya. Melalui darah Yesus Allah menjadikannya sebagai materai dari perjanjian yang baru antara Allah dengan umat-Nya.

I.    Peringatan yang baru perihal Jesus ( 1 Kor 11 : 23 – 24     )
23)    Sebab apa yang kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan yaitu bahwa Tuhan Jesus pada malam waktu Ia diserahkan mengambil hati”
24)    dan setelah itu lalu Ia mengucapkan syukur atasnya, Ia memecah-mecahkannya dan berkata : Inilah tubuhku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlan ini jadi peringatan akan aku,”

Bagaimana caranya mereka mengingat Jesus ?
-    Tanpa ragu, mereka mengingatnya saat ia menyembuhkan, berkhotbah, mengajar di bukit dan berjalan di pantai serta berada di perahu.
-    Tetapi cara yang baru untuk mengingat Dia yaitu Ia mati bagiku. Ia mengasihi aku ( Jah 3 : 16 )

II.    Tanggung Jawab yang baru
•    Setiap kita makan perjamuan suci biarlah kita ingat tanggung jawab yang baru yaitu menjadi saksinya di Jarusalem, Judea dan Samaria  sampai ke ujung bumi.
•    Ia pergi kesorga supaya Roh Kudus datang membantu kita melaksanakan tanggung jawab baru yaitu menjadi saksi-Nya

III.    Persekutuan yang baru
•    Tuhan menyebut perjanjian yang baru, menunjuk kepada persekutuan dengan Dia
-    Dahulu, orang bersekutu dengan Tuhan Jesus melalui Hukum Taurat sekarang melalui kasih.
-    Dahulu, orang bersekutu dengan Tuhan Jesus melalui upacara sekarang melalui iman

Sumber:
Khotbah Pdt. JR Simanjuntak, MA dalam Kebaktian Umum GSJA KEMULIAAN,
 

MUJIZAT YANG TERJADI SAAT PENYALIBAN JESUS


“ Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga” ( Mat 27 : 45 )

Jesus Krisus penuh mujizat, kelahiran-Nya diwarnai mujizat karena Ia lahir dari seorang perawan yang belum mengenal laki – laki ( Luk 1 : 34 ). Hidup dan pelayanan-Nya diwarnai tanda heran.

Mari kita simak 4 hal mujizat yang mewarnai kematian-Nya.
I.    PADA SAAT DIA DISALIB TERJADI KEGELAPAN YANG TIDAK LAZIM

“Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga” (Mat  27 : 45 )

Tidak lazim karena itu pukul dua belas tengah hari dan hanya selama tiga jam. Kegelapan itu bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan tetapi terjadi karena sudah direncanakan sebelumnya.

Dalam peristiwa bangsa Israil keluar dari Mesir tulah kesembilan adalah kegelapan 3 hari ( Kel 10 : 23 ) sesuatu yang terjadi ada dalam rencana Allah.

II.    TABIR BAIT SUCI YANG TERBELAH DUA

“Dan lihatlah tabir bait suci terbelah dua dari atas sampai kebawah dan terjadilah gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah ( Mat 27 : 5 ).

Dengan matinya Jesus Kristus di kayu salib, Allah bukan saja bagi bangsa Yahudi tetapi bagi siapa saja yang berseru memanggil nama-Nya (Rom 10 : 12 – 13 )

III.    GEMPA BUMI DAN BUKIT – BUKIT BATU TERBELAH

“....... dan terjadilah gempa bumi dan bukit batu terbelah ( Mat 27 : 51 )”

Peristiwa yang menggambarkan bukan saja makna pengorbanan-Nya tetapi lebih dari itu. Bertalian dengan kedatangan-Nya kembali untuk kedua kali yang didahului oleh peristiwa alam yang menggemparkan.

IV.    ORANG – ORANG SALEH BANGKIT DARI ANTARA ORANG MATI

“Dan kuburan – kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit (Mat 27 : 52 )”. Peristiwa ini adalah lambang dari kebangkita-Nya dari antara orang mati dan akan lebih dahsyat lagi pada saat kedatangan-Nya kembali ( I Tes 4 : 13 – 17 )

Mujizat yang mewarnai penyaliban Jesus tidak membuat kita mencari mujizat-Nya, tetapi mencari Dia sumber kehidupan yang berkelimpahan ( Joh 10 : 10 ).  

PELAYANAN YANG SEJAT MEMBAWA BERKAT


Yohanes 13:12-15

Tidak ada seorangpun dari antara murid Yesus yang mau membasuh kaki, masalahnya adalah bahwa orang yang membasuh kaki orang lain adalah orang yang paling rendah. Sampai akhirnya Yesus harus memberi teladan tentang pelayanan sejati dan kerendahan hati (Yohanes 13:12-15). Dengan demikian Ia memberi definisi baru tentang kebesaran sejati (Lukas 22:24-26). Otoritas yang dibicarakan Yesus disini adalah otoritas fungsi, bukan otoritas status: otoritas yang tidak terdapat dalam kedudukan atau gelar melainkan dalam selembar handuk! Pelayanan mewujudkan sifat kerendahan hati di dalam kehidupan kita, sifat yang sangat penting dimiliki oleh seorang Kristen (Yakobus 4:6). Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita melayani dan apa itu pelayanan yang sejati. Kita kadang terjebak melakukan pelayanan yang semu padahal Yesus ingin kita melakukan pelayanan yang sejati. Ada beberapa perbedaan antara pelayanan semu dan sejati :

1. Pelayanan semu terpengaruh oleh “suatu yang hebat“. Ia suka melayani bila pelayanan itu besar dan hebat. Pelayanan sejati tidak membedakan mana pelayanan yang kecil dan besar. Ia menyambut setiap kesempatan untuk melayani. Yesus melakukan pelayanan event-event besar yang dipenuhi banyak orang (bahkan ada yang 4000 orang dan ada yang 5000 orang, itu pun baru laki-laki), (Mat 14:13-21; 15:29-39). Namun juga Yesus melakukan pelayanan kecil tapi sangat mengubahkan orang. Ia rela jalan jauh-jauh bertemu dengan perempuan Samaria, Bartimeus yang lumpuh, Zakheus si pemungut cukai, seorang gila dari Gerasa, dan lain-lain. Layanilah Tuhan tanpa melihat apakah itu event besar atau event kecil.

2. Pelayanan semu biasanya bersifat sementara. Kalau ada proyek/tugas khusus yang harus dikerjakan, ia melayani. Seusai melayani maka ia beristirahat dengan senang. Sedangkan pelayanan sejati merupakan suatu gaya hidup. Pelayanan ini dilakukan karena pola hidup yang sudah mendarah daging. Timbulnya secara spontan untuk memenuhi keperluan sesama manusia. Jadi pelayanan sejati bukanlah sesuatu yang kita buat atau tampilkan, melainkan itulah gaya hidup kita.

3. Pelayanan semu menuntut pahala lahiriah. Ia perlu mengetahui apakah orang-orang melihat dan menghargai usahanya. Ia mencari tepuk tangan manusia. Ia menunggu untuk melihat apakah orang yang dilayani itu akan membalas dengan melayani dia. Jika semua pelayanan kita dilakukan di depan orang lain maka kita ini menjadi orang yang dangkal. Pelayanan sejati merasa puas dan tetap melakukan meskipun tidak diperhatikan oleh orang. Ia merasa puas bila Allah disenangkan. Kesukaannya hanya untuk melayani (Lukas 17:10). Ia melakukan untuk Tuhan dan tahu bahwa ada upah yang telah disediakan oleh Tuhan karena itu ia tidak kehilangan focus dalam pelayanannya (Kol 3:23-24).

4. Pelayanan semu menentukan dan memilih siapa yang akan dilayani. Kadang-kadang orang kaya dan berkuasa dilayani sebab itu pasti mendatangkan keuntungan. Kadang-kadang orang yang miskin dilayani untuk menjaga citra kerendahan hati. Pelayanan sejati melayani siapa saja dan tidak pandang bulu (Yakobus 2:1-9).

5. Pelayanan semu dipengaruhi oleh suasana hati. Ia hanya bisa melayani bila ada “perasaan mood“ untuk melayani (“digerakkan oleh Roh“, katanya, padahal “angin-anginan“/tidak stabil). Kesehatan yang terganggu, adanya masalah pribadi dan tidur yang kurang akan menghambat keinginannya untuk melayani. Pelayanan yang sejati melayani dengan rendah hati dan peka terhadap kebutuhan. Ia tahu bahwa “perasaan untuk melayani“ sering bisa menghambat yang sejati. Ia tidak dikendalikan perasaan tapi oleh panggilan hidup dan sudah menjadi gaya hidupnya. Pelayanan sejati rela memaksa diri untuk melayani dengan sungguh-sungguh. Ia menaklukkan dirinya supaya taat kepada Allah dan rela menyangkal diri serta kedagingannya (I Korintus 9:27, II Timotius 4:2).

6. Pelayanan semu menimbulkan keretakan dalam gereja (meruntuhkan gereja) karena berpusat pada diri sendiri. Oleh sebab pelayanan ini, orang lain berhutang kepada kita dan pelayanan ini menjadi salah satu bentuk manipulasi yang paling licik dan merusak. Akibatnya ialah perpecahan dalam gereja. Pelayanan sejati berpusat pada kasih Tuhan yang mempersatukan dan membangun tubuh Kristus. Pelayanan dengan tenang dan sederhana memperhatikan kebutuhan orang lain. Tidak seorangpun diwajibkan untuk membalas pelayanannya itu. Pelayanan ini menarik, menyembuhkan dan membangun. Hasilnya adalah kesatuan gereja dan masyarakat.

Akhirnya, sesuatu yang semu tidak dikenan Allah dan itu berarti jika kita melakukannya kita berdosa kepada Tuhan tapi melakukan pelayanan yang sejati mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Lakukanlah pelayanan yang sejati dalam hidup kita!

MARILAH KITA MENGUMPULKAN HARTA DI SORGA DEGAN HATI YANG TULUS

Written By Admin on Minggu, 04 September 2011 | 9:32 AM

MATIUS 6:19-21
19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 


Orang dunia berkata: “Bekerjalah dengan keras untuk mendapatkan harta untuk dinikmati dan untuk diwariskan kepada anak-anak dan cucu.” Tetapi Yesus berkata: “Jangan kamu mengumpulkan harta di bumi…kumpulkanlah bagimu harta di sorga.” Tidak dikatakan “Kumpulkanlah harta di sorga untuk diwariskan bagi anak dan cucu-cucu mu,” tetapi dikatakan supaya kita mengumpulkan harta di sorga bagi diri kita sendiri. Bukan bagi keturunan kita tapi bagi kita sendiri.

Tetapi sayangnya seringkali orang percaya menganut pandangan orang dunia di dalam mengumpulkan harta. Seringkali kita seperti orang dunia yang berpikir bahwa harta yang sesungguhnya yaitu segala yang ada di dunia ini: uang, mobil, rumah, jabatan, pujian, teman yang banyak, nama yang terkenal dll. Tetapi ini bukanlah harta yang sesungguhnya.

Pada saat ini kita akan merenungkan bersama beberapa poin mengenai “kumpulkanlah hartamu di sorga”.

I.    Apa artinya “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi?” (ay. 19 a)
  • Kita tidak boleh menganggap harta di bumi sebagai hal yang terpenting,  atau paling berharga, atau yang paling bermanfaat bagi diri kita sendiri. Kita tidak boleh menganggap harta di bumi sebagai kemuliaan, tetapi kita harus memandang dan mengakui bahwa harta di bumi ini tidak mempunyai kemuliaan jika dibandingkan dengan kemuliaan harta sorgawi kita.
  • Kita tidak boleh menjadikan kelimpahan dalam harta duniawi sebagai tujuan hidup kita tetapi kelimpahan harta duniawi kita pergunakan sebagai alat untuk memperluas kerajaan Allah.
  • Kita tidak boleh mengandalkan harta duniawi untuk masa depan kita, untuk dijadikan jaminan dan persediaan bagi masa depan kita. Jangan kita berkata kepada harta dunia, “Engkaulah perlindunganku.
  • Tidak  berpuas diri dengan harta benda duniawi. Artinya jangan jadikan harta duniawi menjadi sumber kepuasan dalam hidup tetapi Tuhanlah yang seharusnya menjadi sumber kepuasan hidup.

II.    Alasan mengapa kita tidak boleh memandang harta di bumi sebagai harta kita.

(1)    Karena ngengat dan karat dapat merusakkannya dan pencuri dapat membongkar serta mencurinya. Artinya harta duniawi tidak bersifat kekal, tidak bisa kita bawa ke sorga. Sikap kita atau bagaimana kita memperlakukan harta duniawi itulah yang menentukan harta kita yang sejati atau harta yang sesungguhnya.

Pengkhobah berkata: “Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang yang menghabiskannya…” (Pkh. 5:10). Harta duniawi bisa habis tetapi harta sorgawi yang kita kumpul tidak bisa habis dan itu selama-lamanya untuk kita.

(2)    Karena harta duniawi tidak pernah membawa kepada kepuasan bahkan membawa kita kepada kekhawatiran atau kecemasan, Pkh. 5:9

III.    Apa artinya “harta di sorga?”
  • Tuhan Yesus berkata supaya kita mengumpulkan harta kita di sorga. Itu berarti bahwa di sorga ada harta sama seperti di bumi ini juga ada harta. Hanya saja harta di bumi ini dengan harta di sorga tentunya sangat berbeda.
  • Harta di sorga merupakan satu-satunya harta yang sejati yang tidak akan hilang oleh apapun karena Allah sendiri yang menjaganya dan yang kita nikmati selama-lamanya. Dampak harta sorgawi yang kita miliki yaitu adanya  sukacita yang luar biasa serta kepuasan yang sejati.

IV.    Bukti bahwa kita sedang mengumpulkan harta di sorga, ay. 21
  • Keadaan hati kita atau dimana hati kita berada itu menjelaskan bahwa kita sedang mengumpulkan harta disitu. Dapat juga dikatakan bahwa hati kita mengikuti harta kita.
  • Dimana harta kita berada, entah di bumi atau di sorga , disitulah nilai dan harga diri berada, di situ jugalah cinta dan perasaan berada, ke situ jugalah tertuju segala keinginan dan hasrat, ke situ jugalah mengarah segala tujuan dan maksud dan segala sesuatu dilakukan berdasarkan pandangan akan harta itu.
  • Di mana harta kita berada (entah di bumi atau di sorga), di situ juga perhatian kita dan kekhawatiran kita berada karena takut kehilangan harta itu.
  • Di mana harta kita berada (entah di bumi atau di sorga), di situ jugalah harapan dan kepercayaan kita berada, Ams. 18:10-11.
  • Di mana harta kita berada (entah di bumi atau di sorga), di situ jugalah segala sukacita kita dan kesenagan kita akan berada, Mz. 119:111
  • Di mana harta kita berada (entah di bumi atau di sorga), di situ jugalah pikiran-pikiran kita berada, Kol. 3:2.

V.    Bagaimana kita mengumpulkan harta di sorga?
  1. Dengan cara membiayai pekabaran injil, Mat. 10:10; 1 Tim. 5:17,18; Luk. 8:1-3
  2. Dengan cara menolong anak-anak Tuhan yang berada dalam kesusahan, 2 Kor. 9:1,5
  3. Dengan cara berbuat baik kepada semua orang  terutama kepada kawan-kawan kita seiman, Gal. 6:9-10

Kesimpulan:


Kita tidak boleh menganggap harta di bumi sebagai hal yang terpenting, kelimpahan dalam harta duniawi sebagai tujuan hidup kita, mengandalkan harta duniawi untuk masa depan kita, dan tidak  berpuas diri dengan harta benda duniawi.

Harta duniawi tidak bersifat kekal, tidak bisa kita bawa ke sorga dan harta duniawi tidak pernah membawa kepada kepuasan.

Harta di sorga merupakan satu-satunya harta yang sejati yang tidak akan hilang oleh apapun karena Allah sendiri yang menjaganya dan yang kita nikmati selama-lamanya. Keadaan hati kita atau dimana hati kita berada itu menjelaskan bahwa kita sedang mengumpulkan harta disitu.

Kumpulkanlah harta di sorga dengan cara membiayai pekabaran injil, menolong anak-anak Tuhan yang berada dalam kesusahan, dan dengan cara berbuat baik kepada semua orang  terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Hari Raya Paskah di GPSK "IMMANUEL" Nanga Merakai



Hari Jumaat Agung adalah hari Jumaat sebelum hari minggu paskah,hari peringatan penyaliban YESUS KRISTUS dan wafatNya di Golgota. Hati itu sendiri tidak dijelaskan di Alkitab. ada yang menduga jatuh pada hari baru, tetapi lebih banyak menenpatkan pada hari Jumaat. Berdasarkan rincian kitab suci mengenai pengadilan sahhedrin atas yesus dan analisis ilmiah. Peristiwa penyaliban sangat mungkin terjadi pada hari jumaat. Namun, yanggal kejadian nya yang tidak diketahui dengan pasti . Di hari Jumaat Agung ini GPSK IMMANUEL NANGA MERAKAI Mengadakan BABTISAN untuk pemuda yang menyerahkan sepenuhnya kepada TUHAN YESUS. Pukul 06.00 WIB. Puji Tuhan….!!! 
         Dizaman yang serba modern, serba elit ini, yang mau serba instan ini. masih ada pemuda yang ingin menyerahkan hidupnya. Dimana masa-masa usia pemuda ini sedang mencari jati diri meraka. Walpun kebanyakkan pemuda diluar yang belum mengenal TUHAN YESUS. Tetapi setidaknya mereka yang telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan dapat menjadi garam untuk mereka yang belum mengenal Tuhan dan mengenalkan Tuhan Yesus kepada setiap pribadi. Bersamaan dengan itu GPSK IMMANUEL NANGA MERAKAI juga mengadakan perjamuan kudus untuk jemaat yang telah dibabtis dalam nama BAPA, ANAK DAN ROH KUDUS ( tri tunggal )


 

JANGAN SAMPAI KITA LUPAKAN (LEST WE FORGET )


 Dr. W. A. Criswell
 1 Korintus 11:24

04-01-90

         
Gereja kita memperingati ordinansi kudus ini sekali dalam empat bulan dalam ibadah pagi. Ini merupakan sebuah hal, yang mana kita telah diminta oleh Tuhan untuk melakukannya. Dan Di dalam pelaksanaan ordinansi kudus ini, Tuhan kita telah berkata di dalam 1 Korintus pasal 11 melalui RasulNya, yaitu Paulus:

Sebab apa yang telah ku teruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan –(kamu mendramatisasikannya)—sampai Ia datang.

            Dan judul dari khotbah kita adalah: Jangan Sampai Kita Lupakan. 
            Ada sebuah kelemahan di dalam sifat manusia. Yaitu hal ini. Kita memperoleh jaminan berkat dan kekayaan dari orang-orang yang telah mengingat kita dan telah begitu baik bagi kita dan peduli kepada kita pada masa lalu.
PPHG Immanuel Nanga Merakai
            Seringkali kita melupakan kebaikan mereka dan pengorbanan mereka untuk kita. Hal itu seringkali benar  dengan anak-anak. Mereka telah mendapat warisan pengorbanan orang tua mereka. Dan mereka tidak mengingat kebaikan ayah dan ibu mereka saat mereka dilahirkan dan ketika mereka bertumbuh besar.   
            Merupakan sebuah perjalanan yang besar melewati lembah kematian ketika anda dilahirkan. Dan kasih yang penuh perhatian mengawasi anda untuk kebaikan anda dan untuk Allah selama anda bayi dan selama anda masih kanak-kanak. Karunia-karunia ini tidak akan pernah dapat kita balas. 
            Saya ingat ketika saya tinggal dalam sebuah peternakan di daerah timur laut New Mexico, menderita kelaparan dalam kemiskinan. Saya menjadi sakit. Dan ibu saya, ketika saya berusia lima tahun membawa saya di pangkuannya. Dan di atas sebuah kereta ke Trinidad, Colorada dan di sana di bawah perlindungan seorang ahli bedah yang bernama Frandinthal, saya dioperasi.
            Dan kemudian ibu memeluk saya di dalam pangkuannya dan membawa saya kembali ke daerah peternakan padang gurun itu. Saya sudah cukup pulih ketika dia naik kereta itu dengan membawa saya di pangkuannya. Sekalipun saya masih berusia lima tahun, sata tetap mengingat hal ini.          
            Dia berkata, “Lihat, betapa malangnya dia.”
            Itulah ibu saya. Sulit bagi kita untuk mengenang kembali pengorbanan orang-orang yang telah mendirikan bangsa kita dan membuat bangsa kita ada. Kita membaca di dalam sejarah tentang Valley Forge dan tentang Appomattox dan Alamo. Tetapi berapa banyak dari kita yang bersyukur kepada Allah atas darah para pahlawan yang telah membawa kepada kita kebebasan yang kita miliki di Amerika yang terkasih ini? 
            Saya dapat mengingat para prajurit, para pemuda di Prancis, yang telah menyerahkan hidup mereka, yang dibawa kembali pulang untuk dimakamkan pada Perang Dunia Pertama. Di dalam Perang Dunia Kedua, kembali lagi, seorang pendeta memakamkan para pemuda kita yang telah menyerahkan hidup mereka atas kita. Dan di dalam kenangan anda, mungkin Korea dan Vietnam. Darah para pahlawan yang memberikan kebebasan bagi kita. Tetapi kita memiliki sebuah kecenderungan untuk melupakan mereka. Demikian juga dengan jemaat kita. Para martir yang telah memungkinkan pemberitaan injil sampai kepada kita sehingga kita diselamatkan. Para martir yang seringkali dilupakan. 

           Saya sedang membaca sebuah buku yang sangat lama. Dan buku itu sudah sangat tua sekali,  dari kayu yang sudah tua. Dan di dalamnya terdapat lukisan sebuah teks:  "Pembakaran orang-orang Baptis di Smithfield."  Para martir ini yang telah dibakar di tiang pembakaran karena memberitakan injil yang telah menyelamatkan kita ke dalam hidup yang kekal. Seberapa sering kita melupakan mereka. Dan hal itu sangat benar dengan negara kita, sebagai sebuah negara besar yang melupakan Allah. 
Pada tahun 1897, Imperium Inggris Raya sedang  merayakan Perayaan Jubelium Permata dari Ratu Viktoria  Dan dunia tidak pernah melihat, dan tidak pernah lagi melihat sebuah arak-arakan kebesaran seperti yang terdapat dalam Perayaan Jubelium Permata Ratu Viktoria. Dari tujuh benua di planet ini, dan dari seluruh wilayah kebesaran Imperium Inggris, mereka semua berkumpul di Inggris, merayakan Jubelium Pertama dari Ratu mereka yang luar biasa yaitu Ratu Viktoria. Pada akhir perayaan itu, sama seperti sebuah kilat yang memancar dari langit, Rudyard Kipling menerbitkan puisi ini. 

Allah dari leluhur kami yang dikenal dari dulu
Tuhan dari  garis pertempuran kami yang sangat luas
Yang di bawah tanganNya yang dahsyat kami bernaung
Yang berkuasa atas pohon-pohon palem dan pinus
Tuhan balatentara sorga, sertailah kami selalu
Jangan pernah  kami lupakan-jangan sampai kami lupakan

Kegemparan dan sorak-sorai akan berlalu
Para Kapten dan para raja akan beranjak
Yang tetap berdiri adalah korbanMu pada masa lalu
Sebuah kesederhanaan dan sebuah hati yang penuh penyesalan
Tuhan balatentara sorga, sertailah kami selalu
Jangan sampai kami lupakan—jangan sampai kami lupakan

Yang memanggil dari jauh, angkatan laut kami yang menghilang
Atas pesisir dan tanjung yang tenggelam dalam api
Tuhan, segala kebesaran masa lalu kami
Adalah sama dengan Niniwe dan Tirus
Hukuman terhadap bangsa-bangsa, menyerakkan kami kemudian,
Jangan sampai kami lupakan-jangan sampai kami lupakan

Jika mabuk dengan tanda kekuasaan, kami akan terhilang
Lidah yang liar yang tidak memegang engkau dalam keterpesonaan
Sama seperti mulut besar yang digunakan oleh orang kafir
Atau generasi tanpa hukum—
Tuhan balatentara sorga, sertailah kami selalu
Jangan sampai kami lupakan—jangan sampai kami lupakan.

            Dan saya pikir Inggris telah melupakannya. Di sana sekarang sangat sukar bagi seseorang untuk mengunjungi gereja. Di sana sangat susah untuk menemukan seseorang yang mengingat Allah dari bapa-bapa leluhur kita. Dan sikap melupakan yang sana dari saudara-saudara dan saudari-saudari Inggris kita di negara yang lama itu juga sedang melanda kehidupan bangsa Amerika. Kita tidak mengingat Tuhan Allah yang dari tanganNya kita telah menerima semua berkat dan kekayaan. 
            Karena itu Tuhan kita berbicara tentang sebuah peringatan tentang pengorbananNya bagi kita. “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Jangan sampai kita lupakan.  
            Ada sebuah hukum yang tidak berubah dan tidak terbatas serta tidak terduga yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Yaitu, jiwa yang berdosa harus mati. Dan upah dosa adalah maut. Saya menghadapi maut karena saya orang berdosa. Saya telah kehilangan kesempurnaan dan kekudusan dan kemuliaan Allah. Saya berkhotbah dan tinggal di antara sebuah masyarakat yang menghadapi hukuman maut yang tidak dapat dihindarkan. Dosa dan maut bersifat universal. Akan tetapi saya telah memiliki sebuah pengharapan. Saya telah memiliki hidup. Saya telah memiliki jaminan. Saya sedang berada di jalan menuju sorga. Bagiamanakah saya orang yang berdosa yang menghadapi maut dibangunkan dan menjadi hidup?
            Saya memiliki sebuah janji. Saya memiliki sebuah jaminan. Saya adalah seorang pengembara yang menuju ke sebuah dunia atas dan sebuah dunia yang lebih baik. Mengapa? Karena seseorang telah membayar hutang saya. Seseorang telah mati menggantikan posisi saya. Seseorang telah membayar harga keselamatan saya. Dan seseorang itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Ya Allah, betapa merupakan sebuah hukuman yang telah Dia ambil di posisi saya! Dan betapa sebuah kematian, bahwa Dia mati bagi saya! Kematian yang telah Dia bayar atasku! Bagaimanakah saya dapat melupakannya? Kondisi saya menghadapi kematian begitu tragis. Dia telah meninggalkan rumahNya di dalam kemuliaan, turun dalam rupa manusia dan membayar harga dan hukuman atas pemberontakan saya. Dia telah mati bagi saya.
            Ketika saya masih kanak-kanak, saya melihat  seorang pria yang berlari di lintasan kereta api dan menghentikannya. Hal itu mengingatkan saya kepada sebuah kisah tentang seorang pria lain yang telah melakukan hal itu. Sekelompok kuda sedang menarik sebuah kereta dengan sangat cepat dan seorang pria berlari di depannya dan merebut kendalinya—kendali dari kuda yang terlepas—dan berusaha menghentikannya. Tetapi ketika dia berusaha menghentikan kuda yang terlepas itu, dia terluka dan terinjak serta berdarah kemudian meninggal. Dan para petani yang menyaksikan itu berkumpul di sekelilingnya dan bertanya mengapa dia melakukan hal itu, mengorbankan hidupnya untuk menghentikan kereta kuda itu. 
            Dan di dalam perkataannya yang terakhir pria itu berkata, “Lihatlah ke dalam kereta.”
            Dan mereka melihat ke dalam kereta dan di dalamnya terdapat bayi laki-laki yang merupakan anaknya. Dia mati untuk itu. 
            Itu hanyalah sebuah gambaran yang yang kecil dan sederhana dari pencurahan anugerah dan kasih Allah bagi kita. Anda lihat ada hukum lain di dunia ini yang tellah dibuat oleh Allah. Yang pertama, jiwa yang berdosa harus mati. Dan kita dsemua menghadapi hukuman maut yang tidak dapat dihindarkan. Ada hukum lain yang bersifat universal di alam semesta ini. Itu adalah hukum pengganti. Seseorang yang lain dapat membayar hutang saya. Seseorang yang lain dapat mati untuk saya. Seperti seorang ibu pengganti, seseorang yang lain dapat membesarkan anak-anaknya. Itulah hukum penggati dari Allah. Anda akan menemukannya melalui seluruh penyingkapan Firman Allah. 
            Apakah anda mengingat ketika Abraham di Gunung Moria mengnuhus pisaunya untuk ditikam ke jantung anaknya Ishak? Malaikat Allah menghentikannya. Lalu di sana terdapat seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Dan domba jantan itu dipersembahkan untuk menggantikan bocah itu—hukum penggatian! 
            Apakah anda mengingat malam Paskah di Mesir? Setiap anak sulung di setiap keluarga akan mati. Tetapi Allah berkata, “Ambillah darah domba Paskah dan oleskan darah itu di depan pintu rumahmu di ambang atas dan ambang samping kiri kanan membentuk sebuah salib, malaikat mautKu akan melewatinya.” Anak domba Paskah—sebuah pengganti. 
            Dan melalui sistem korban dari kovenan lama, Perjanjian Lama, ketika seseorang yang berdosa datang ke hadapan Tuhan, dia mempersembahkan sebuah korban di hadapan Tuhan. Dan hal itu dilakukan seperti ini. Korban itu diikat di atas altar. Dan pemohon itu menundukkan kepalanya dan menaruh tangannya di atas korban. Dan di sana dia mengakui kejahatan dan dosa-dosanya. Dan binatang itu dikorbankan menggantikan penjahat dan pendosa itu. Inilah hukum pengganti Allah. Dan ketika nabi-nabi mengkhotbahkannya, inilah yang mereka sampaikan. 
            IsaiahYesaya 53, "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
            " Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.."  Hukum pengganti: Dia mengambil dosa-dosa kita dan Dia menanggung kedukaan kita serta penderitaan kita. Dan kita diselamatkan serta diampuni di dalam kasih dan kemurahanNya.
            Dan Tuhan hanya meminta satu hal. Hanya satu! Seperti orang tua yang penuh kasih, saya tidak pernah melihat seorang ayah dan ibu yang penuh kasih yang meminta anak-anaknya untuk membayar apa yang telah diberikan orang tua atas mereka. Hal yang mereka minta adalah supaya anda mengingat dalam kasih dan ucapan syukur. “Anak-anak yang manis, apa yang telah kami lakukan kepadamu dan apa yang telah kami berikan kepadamu berasal dari hati kami yang paling dalam. Dan kami tidak meminta pengembaliannya, hanya kasih dan ucapan syukur serta kenangan.”
Dan untuk memberikan hal itu kepada ayah dan ibu yang saleh merupakan salah satu keistimewaan yang sangat manis berdasarkan kasih dan ucapan syukur sang anak. Dan hanya itu yang diminta Allah dari kita. “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Terima kasih Tuhan dan diberkatilah namaMu sampai selama-lamanya. Untuk semua yang telah Engkau lakukan dan perbuat serta berikan kepada saya.   
            Permohonan ini yang telah anda dengar beberapa waktu yang lalu oleh kepala program penatalayanan kita. Semuanya adalah untuk orang lain. Para pengkhotbah muda ini  yang ada di sekolah kita, yang telah diajarkan dengan Firman Allah yang benar dan tidak ada salah, pergi keluar untuk mengajar dan memberitakan injil Kristus yang menyelamatkan. Beberapa dari mereka berada di tanah kelahiran kita, beberapa dari mereka berada di luar negeri sebagai misionaris. Untuk dapat mengutus mereka supaya dapat memberitakan injil merupakan sebuah keistimewaan lebih, yang keluar dari kasih untuk Engkau.   
            Dan program pengajaran Firman Allah untuk anak-anak kita yang masih kecil dan bagi remaja-remaja kita dan bagi para ayah dan para ibu kita. Semuanya berasal dari kasih untuk Tuhan. Tuhan betapa besar kasih yang telah Engkau lakukan bagi saya. Dan program yang sedang kita siapkan untuk diumumkan kepada jemaat kita yang berada di kota besar ini, merupakan pelayanan yang paling luas bagi orang-orang miskin dan gelandangan serta yang membutuhkan pertolongan di Amerika. 
            Tuhan, itu bukanlah beban untuk saya. Itu adalah sebuah keistimewaan besar yang pernah diberikan Allah kepada saya. Dan bagi saya adalah untuk merespon dan melayani dan untuk menolong orang-orang miskin dan gelandangan, Tuhan itu adalah untuk Engkau. Ini ada di dalam ucapan syukur untuk apa yang telah Allah lakukan bagi jiwa terhilang yang malang ini. Dan bagi kumpulan orang banyak yang berada di ruangan Allah pada pagi yang khidmat ini, hal yang paling manis yang penah anda tahu atau alami di dalam kehidupan manusia adalah hal ini yaitu di dalam kasih ucapan syukur untuk memberikan jiwa anda dan ketatan anda dan kasih anda dan ucapan syukur anda serta rasa terima kasih anda kepada Tuhan Yesus.
            "Terima kasih Tuhan untuk semua yang telah Engkau lakukan bagiku. Terima kasih Tuhan, untuk semua maksudMu bagi keluargaku dan anak-anakku. 
            "Dan terima kasih Tuhan untuk janjiMu. Gerbang sorga yang terbuka lebar pada suatu hari dan membiarkan orang berdosa yang miskin ini untuk masuk ke dalam.”            Oh, Betapa luar biasanya sebuah injil yang kita miliki dan sebuah kemuliaan yang kita miliki dan sebuah undangan yang diberikan kepada pendeta untuk mengundang jemaat.

Alih bahasa: Wisma Pandia, Th.M.

penulis Dr. W.A. Criswell, ThM, PhD. dan nama penerjemah/editor: Dr. Eddy Peter Purwanto, MM, PhD, ThD  dan memberi keterangan bahwa khotbah tersebut diambil dari www.wacriswell-indo.org
“TRIMA KASIH TUHAN YESUS MEMBERKATI”